Pembalap Muda Solo Berprestasi di Kejuaraan Go Kart Internasional

Pembalap muda asal Solo, Diptya Oktadewa (tiga dari kanan) meraih juara tiga di ajang bergengsi Rok Cup 2016 di KF1 Karting Circuit, Kranji, Singapura (26 - 11). (Istimewa)
29 November 2016 15:40 WIB Sport Share :

Kejuaraan Go Kart Internasional menyajikan pembalap muda Solo yang tampil menawan.

Solopos.com, SOLO – Kota Solo seperti tak pernah kehabisan bibit pembalap muda berprestasi. Setelah era Rio Haryanto yang mampu menembus ajang Formula One (F1), kini giliran Diptya Oktadewa yang mencuri perhatian.

Pembalap yang masih duduk di bangku SMP itu meraih juara ketiga di Kejuaraan Internasional Karting, Singapore Turf Club (STC) Rok Club 2016 di KF1 Karting Circuit, Kranji, Singapura, Sabtu (26/11/2016). Capaian anak muda  yang akrab disapa Dio itu bisa dibilang sensasional.

Pasalnya Dio yang memperkuat tim Respon Motorsport berstatus rookie atau debutan di ajang go kart internasional. Pelajar kelas VIII SMPN 4 Solo itu bahkan baru mendalami balap go kart bulan Juli 2016 lalu! Dio menjadi salah satu dari delapan pembalap Indonesia yang mengikuti event karting bergengsi di Asia tersebut.

Perjuangan Dio menjuarai kelas Senior ROK GP Open tidak mudah. Dia harus melawan pembalap top dari penjuru dunia seperti Italia dan tuan rumah Singapura. Dio yang baru berusia 14 tahun pun termasuk pembalap termuda yang mengikuti balapan untuk kelas umum tersebut. Kejuaraan Karting Internasional biasanya diperuntukkan bagi pembalap usia 17 tahun hingga 40 tahun.

“Saya sudah melihat potensi Dio sejak masuk. Di balapan pro pertamanya di Sentul beberapa bulan lalu, Dio juga langsung meraih podium. Anak ini memang istimewa,” ujar Dicky Septiawan, mentor Dio saat dihubungi Solopos.com, Senin (28/11/2016).

Penampilan impresif  Dio di Singapura tak hanya ditunjukkan saat balapan. Pada sesi latihan bebas, Dio bahkan mampu menjadi pembalap tercepat. Sayang hujan yang mengguyur sirkuit di pertengahan hingga akhir lomba membuat penampilan Dio kurang optimal saat race.

“Dia jelas kalah pengalaman dengan pembalap lain di sirkuit basah. Namun dia masih bisa berkembang,” sambung Dicky yang mantan pembalap road race kawakan era 90-an.

Di seri sebelumnya atau keempat, Oktober 2016, Dio sebenarnya sudah membuat panggung go kart Asia terpana dengan finis di posisi keempat. Dio bahkan bisa meraih runner up andai tak melakukan kesalahan di akhir balapan. Dio mengaku bersyukur bisa berprestasi di ajang pertamanya di luar negeri.

Podium di Singapura dia persembahkan bagi keluarga, pelatih dan SMPN 4 yang sudah mendukung perjuangannya. “Saya sangat bersyukur,” ujarnya.