Demi Prestasi Bulu Tangkis, Legenda Sarankan Pembatasan Gadget

Hariyanto Arbi (JIBI/Solopos - Hanifah Kusumastuti)
11 September 2017 08:30 WIB Hanifah Kusumastuti Sport Share :

Prestasi bulu tangkis Indonesia khusunya di nomor tunggal putra dianggap menurun.

Solopos.com, KUDUS – Menurunnya prestasi pebulu tangkis tunggal putra di tingkat dunia memunculkan keprihatian dari sejumlah legenda bulu tangkis Tanah Air. Salah satunya, Hariyanto Arbi.

Pengoleksi dua medali emas All England tersebut melihat ada kecenderungan menurunnya prestasi di sektor tersebut. Buktinya, gaung tunggal putra Indonesia cukup lama tak terdengar di tingkat dunia.

"Terakhir mungkin Taufik [Hidayat] yang bisa dikatakan ikon. Generasi sekarang memang ada beberapa, tapi tidak benar-benar menonjol dan bisa dijadikan ikon," urai juara dunia tunggal putra 1995 tersebut.

Hariyanto Arbi melihat ada kesenjangan regenerasi antara Taufik dan penerus-penerusnya. Saat ini, Indonesia pun sangat bergantung pada pemain-pemain yang berusia muda di tunggal putra.

"Kini kita hanya bertumpu pada sektor ganda saat bicara level dunia. Ada Owi dan Butet [Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir]. Kalau bicara sektor tunggal [putra dan putri] masih harus dikejar lagi," jelas Hariyanto Arbi kepada wartawan di sela-sela Final Audisi Beasiswa Bulu Tangkis Djarum 2017 di GOR Djarum, Jati, Kudus, Sabtu (9/9/2017).

Hariyanto Arby berharap pebulu tangkis masa depan Merah-Putih harus menanamkan terus semangat pantang menyerah dan berlatih. Mereka juga harus disiplin dalam segala hal, termasuk dalam kehidupan sehari-hari.

Hariyanto Arbi tak memungkiri jika pebulu tangkis dalam generasi milenial tak bisa lepas dari perkembangan teknologi, termasuk penggunaan gadget. "Saya setuju kalau gadget harus dibatasi. Misal beberapa jam sebelum bertanding atau latihan enggak boleh pakai gadget. Latihan harus keras, jangan terlalu sibuk update status [di medsos]," urai pebulu tangkis yang mengalahkan Ardy B. Wiranata pada final All England 1994 itu.

Meski demikian, teknologi juga bisa memicu semangat dan kemampuan atlet. "Jadi ada positifnya juga. Sekarang mau lihat laga siapa saja, zaman kapan saja, bisa lihat YouTube. Misal ingin nonton dan mempelajari Lee Chong Wei atau Lin Dan, gampang. Saya dulu kalau ingin lihat mainnya Liem Swie King susah [videonya]," ujar dia.

Pria kelahiran Kudus 45 tahun silam tersebut berharap bulu tangkis Indonesia bisa berbicara banyak saat menjadi tuan rumah di Asian Games 2018. Dia juga menginginkan akan muncul ikon-ikon baru di bulu tangkis Indonesia yang bisa bicara di level dunia, khususnya dari sektor tunggal putra.

Seperti diketahui Hariyanto Arbi merupakan tunggal putra terakhir Indonesia yang bisa menggondol medali emas dari All England. Itu pun sudah terjadi pada 1994 alias 23 tahun silam. "Saya dan Pak King [Liem Swie King] sudah ikhlas jika ada yang mau meneruskan [sebagai juara All England]," ujarnya setengah berkelakar.