Cerita Laura Aurelia, Raih Emas Hingga Pecahkan Rekor di ASEAN Para Games 2017

Laura Aurelia Dinda, 18, menunjukkan medali emas yang ia raih dari cabang olahraga renang di ASEAN Para Games di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 21 September lalu. (Istimewa)
28 September 2017 14:25 WIB Moh Khodiq Duhri Sport Share :

Laura Aurelia Dinda mampu meraih medali emas di ASEAN Para Games 2017.

Solopos.com, KARANGANYAR – Dua tahun lalu, Laura Aurelia Dinda, 18, sempat kehilangan impian menjadi atlet renang profesional. Tulang punggungnya retak akibat terjatuh di kamar mandi. Namun, dua tahun berselang, siapa sangka Laura mampu membuat bendera merah putih berkibar dan lagu Indonesia Raya berkumandang pada ajang ASEAN Para Games IX di Kuala Lumpur, Malaysia.

Mahasiswi baru Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menjadi atlet pertama yang membuka keran medali emas bagi Indonesia. Lebih spesial lagi, Laura mampu memecahkan dua rekor sebagai perenang tercepat di nomor 50 meter gaya bebas dengan catatan waktu 40 detik dan 100 meter gaya bebas dengan catatan waktu 1 menit 30 detik.

Laura merupakan anak tunggal dari pasangan David Haliyanto dan Ni Wayan Mahendra. Ia menekuni renang sejak masih duduk di bangku kelas III SD. Sejak masih duduk di Kelas V SD, Laura mulai mengikuti berbagai kejuaraan renang. Sudah banyak medali yang ia raih sejak SD, SMP hingga SMA.

Medali dari kejuaraan setingkat kota, provinsi hingga nasional sudah ia kumpulkan. Saat masih duduk di bangku SMA, dia mengalami peristiwa tragis yang mengubah jalan hidupnya. Dia terjatuh di kamar mandi saat mengikuti Popda SMA di Semarang.

“Setelah terjatuh, saya masih sempat bertanding dan meraih medali perunggu. Efek dari jatuh itu baru saya rasakan sebulan kemudian. Pagi itu saya berusaha mematikan alarm di layar ponsel. Tiba-tiba terdengar suara krek yang diikuti rasa sakit luar biasa di punggung saya,” kenang Laura saat ditemui Solopos.com di rumahnya di Perum Taman Tiara Asri, Widyapura, Colomadu, Karanganyar, Rabu (27/9/2017).

Dokter memastikan tulang belakang Laura patah. Hal itu membuat Laura tidak bisa berlama-lama duduk maupun berdiri. Kondisi itu sempat membuat Laura drop. Orangtua kesulitan untuk membangkitkan kepercayaan diri si buah hati. Dia merasa impiannya meniti karir sebagai atlet renang sudah habis.

“Butuh waktu selama setahun untuk membangkitkan semangatnya kembali. Dia antusias saat ditawari bergabung dengan atlet difabel binaan National Paralympic Committee (NPC),” papar Ni Wayan.

Kerja keras Laura selama berlatih renang berbuah hasil positif. Dia resmi masuk pelatnas yang disiapkan untuk ASEAN Para Games di Kuala Lumpur pada 17-23 September 2017 lalu. Selama menjalani pelatnas, Umbul Tlatar menjadi tempat latihan tiap pagi. Bersama teman-temannya, Laura berangkat dari Solo ke Umbul Tlatar di Boyolali setiap pukul 05.00 WIB.

“Tlatar sengaja dipilih karena airnya cukup dingin. Air yang dingin itu membuat gerakan renang menjadi lebih berat. Ini adalah implementasi dari teori viskositas air. Sama seperti berlari dengan beban. Tapi, itu bermanfaat dalam menguatkan otot,” jelas Laura.

Sebagai pendatang baru, Laura memang tidak diunggulkan untuk meraih juara. Namun, berkat kerja keras selama latihan, dia berhasil menorehkan kejutan dengan menyingkirkan sejumlah kandidat peraih emas dari negara lain.

“Saya sempat takut bersaing dengan Theresa dari Thailand. Dia sudah malang melintang di dunia renang. Usianya 30 tahun sehingga sudah cukup matang. Saya benar-benar tidak menyangka bisa mengalahkan dia. Ini menjadi medali pertama yang saya raih di kejuaraan bertaraf internasional. Ini yang tidak pernah saya dapatkan saat tulang punggung saya belum patah,” terang Laura.