ASIAN PARA GAMES 2018 : Pelatih Basket Kursi Roda Berlakukan Sistem Prmosi-Degradasi

Atlet difabel peserta seleksi tim basket kursi roda Asian Para Games 2018 mendengarkan instruksi pelatih di Sritex Arena, Selasa (19/12/2017). (JIBI/Solopos - Chrisna Chanis Cara)
20 Desember 2017 14:25 WIB Ahmad Baihaqi Sport Share :

Asian Para Games 2018 akan memainkan cabang olahraga basket kursi roda.

Solopos.com, SOLO — Pelatih cabang olahraga basket kursi roda untuk Asian Para Games 2018 cukup puas dengan hasil seleksi dua hari yang digelar di Sritex Arena, Senin-Selasa (18-19/12/2017). Sebagian besar atlet difabel yang mengikuti seleksi dinilai potensial untuk bersaing di ajang sekelas Asian Para Games. Namun tim pelatih tetap memberlakukan sistem promosi-degradasi untuk memacu pemain meningkatkan kualitasnya.

Dalam seleksi hari kedua, Selasa, sebanyak 19 atlet digembleng lewat game three on three. Peserta seleksi diminta menunjukkan kemahiran dalam bekerjasama, menggiring bola, mengumpan hingga menembak. Cara bertahan dan pergerakan tanpa bola juga dinilai dalam seleksi hari terakhir.

Pantauan Solopos.com, sebagian besar pemain sudah mampu menggiring bola (ball handling) dengan baik. Passing-passing mereka juga cukup akurat. Padahal mayoritas pemain adalah atlet dari cabang atletik. Hanya para atlet masih agak lemah dalam menghasilkan poin.

Pelatih tim basket kursi roda, Fajar Brilianto, mengatakan kemampuan para atlet untuk memahami teknik basket cukup bervariasi. Namun dia cukup puas karena sekitar 60% sudah mampu bermain dengan teknik yang benar meski baru beberapa hari latihan.

“Sebagian pemain seperti dari DIY dan Bali memang sudah sering main meski tanpa teknik. Ketika mereka dibekali teknik dalam basket, mereka mudah menyerap,” ujarnya saat ditemui Solopos.com di Sritex Arena.

Fajar sudah mengantongi 12 nama pemain yang bakal digembleng menuju Asian Para Games 2018 di Jakarta. Namun demikian, dia tak bisa memastikan para pemain itu aman jika tak berkembang selama training center mulai Januari. Pihaknya menerapkan sistem promosi-degradasi agar pemain tak merasa nyaman dengan posisinya. “Skuat pelapis pasti ada. Jadi kalau ada pemain yang tidak serius, bakal langsung diganti.”

Meski baru kali pertama tampil di Asian Para Games, tim basket kursi roda Indonesia enggan main-main. Fajar pribadi bahkan menargetkan tampil semaksimal mungkin meski tak dibebani target khusus dari National Paralympic Committee (NPC).

“Skuat ini adalah embrio basket kursi roda nasional di masa depan. Kami enggak mau menghabiskan waktu dan tenaga untuk hal yang sia-sia,” tegas dia.

Tim rencananya membidik Sritex Arena sebagai markas selama mempersiapkan diri untuk Asian Para Games. Sejauh ini pihak terkait menyambut positif keinginan tersebut.

Tokopedia