Ini Target Tontowi/Liliyana di 2018

05 Januari 2018 20:25 WIB Ahmad Baihaqi Sport Share :

Tontowi/Liliyana memiliki misi tersendiri di tahun 2018.

Solopos.com, JAKARTA – Pasangan ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, antusias menghadapi musim 2018. Mereka memiliki misi tersendiri di tahun ini.

Tontowi/Liliyana merupakan pasangan andalan Indonesia di sektor ganda campuran. Mereka sudah mengoleksi berbagai macam gelar bergengsi mulai dari All England, Kejuaraan Dunia, hingga Olimpiade. Kendati demikian, Tontowi/Liliyana belum mencicipi gelar Asian Games.

Kejuaraan itu lah yang menjadi target pasangan yang kerap dipanggil Owi/Butet itu pada 2018. Apalagi, Indonesia akan menjadi tuan rumah pada kejuaraan olahraga se-Asia tersebut. Pada edisi sebelumnya yakni Asian Games Incheon 2014, Tontowi/Liliyana hanya mampu mendapat medali perak.

“Tahun 2018 ini saya mau juara lagi di All England dan dapat medali emas di Asian Games,” tutur Tontowi seperti dikutip dari Badmintonindonesia.org, Jumat (5/1/2018).

Tontowi juga berbicara mengenai performa mereka sepanjang 2017 kemarin. Di periode itu, Tontowi/Liliyana meraih tiga gelar yakni Indonesia Open 2017, Kejuaraan Dunia 2017, dan Prancis Open 2017. Gelar Indonesia Open 2017 menjadi yang pertama bagi pasangan tersebut.

“Rasanya luar biasa, bisa juara di depan publik sendiri dan akhirnya menang setelah beberapa kali mencoba. Kami pun mematahkan anggapan orang yang meragukan kalau kami bisa juara di kandang sendiri,” imbuh Tontowi.

Senada dengan Tontowi, Liliyana juga menganggap gelar Indonesia Open 2017 menjadi trofi yang paling berkesan baginya pada tahun lalu. “Gelar di Indonesia Open paling berkesan buat kami, karena kami penasaran sekali mau jadi juara di rumah sendiri. Waktu itu kami berpikir kok belum bisa juara di Indonesia, padahal di event-event penting seperti kejuaraan dunia dan emas olimpiade sudah bisa kami dapatkan,” kata Liliyana.

Liliyana mengaku bakal lebih selektif lagi memilih turnamen pada 2018 ini. “Kami mesti lebih siap lagi, pemain selevel kami harus lebih selektif dalam memilih turnamen. Agak mikir juga ada 12 turnamen yang wajib diikuti di 2018, cukup berat buat kami. Kalau ikut saja bisa, tetapi hasilnya belum tentu maksimal,” terangnya.