Linda Darrow, Petarung MMA yang Suka Menari dan Masak

Linda Darrow (Solopos/Moh. Khodiq Duhri)
08 Mei 2018 16:25 WIB Moh Khodiq Duhri Sport Share :

Solopos.com, SOLO - Nama Linda Darrow belakangan mulai diperhitungkan di kancah One Pride Mixed Martial Arts (MMA) baik di level nasional maupun internasional. Petarung wanita andalan Han Academy Solo ini baru saja mengemas 7 kemenangan dan tak terkalahkan.

Terakhir, Linda mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia setelah mengalahkan Rocel Catalan dari Filipina di International One Pride MMA di Mahaka Square, Jakarta, Sabtu (5/5/2018) malam WIB. Linda Darrow dinyatakan menang KO pada ronde pertama, menit 2,15 detik.

Tokopedia

Kemenangan itu diraih setelah Linda Darrow secara bertubi-tubi melayangkan serangan pukulan dan tendangan yang membuat Rocel Catalan terpojok. Serangan bertubi-tubi itu membuat wasit Sony Rambing langsung menghentikan pertarungan. Linda Darrow pun dinyatakan menang KO atas Rocel dengan teknik striking.

Di atas ring, Linda Darrow memang dikenal garang. Terbukti, tujuh lawannya dibuat tak berdaya oleh wanita bertinggi badan 163 cm ini. Rekor tujuh partai tak terkalahkan di One Pride MMA menjadikan namanya masuk jajaran petarung wanita hebat. Namun, di balik kegarangannya yang kerap membuat lawan keder di atas ring. Linda Darrow tetaplah seorang wanita. Di atas ring, Linda adalah petarung kuat. Tapi, di dalam rumah, Linda adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki dua putra.

"Dua anak saya sepertinya juga mau mengikuti jejak ibunya sebagai atlet bela diri. Tapi, mereka tidak pernah menyaksikan saya bertanding secara langsung. Paling nonton di TV. Mungkin karena tidak tega ibunya dipukuli orang," ujar Linda seraya terkekeh saat berbincang dengan Solopos.com di Hartono Mall Solo Baru, Senin (7/5/2018).

Linda sudah belajar menjadi petinju sejak usia 7 tahun. Lingkungan yang mempengaruhi minatnya terjun di dunia bela diri. Dua saudara laki-lakinya lebih dulu terjun di dunia tinju. Sementara ayahnya adalah seorang pelatih judo di korps TNI Angkatan Darat. Meski latihan sejak usia 7 tahun, Linda baru diperbolehkan bertanding setelah usianya genap 12 tahun. Saat itu, dia berkesempatan di partai ekshibisi dan meraih juara.

Sejak saat itu, kariernya mulai menanjak. Pada 2005, ia mulai terjun di kejuaraan tinju bertaraf nasional. Namanya pun mulai dipertimbangkan untuk masuk kontingen Timnas Indonesia yang disiapkan untuk SEA Games. Sayang, Linda gagal masuk kontingen timnas karena hanya finis di peringkat dua pada saat seleksi.

Karena tuntutan karier sebagai petarung, Linda dan keluarga memilih pindah ke Solo sejak 2012 silam. Dia tinggal di Purigading, Solo Baru. Bersama Han Academy Solo, Linda kerap diturunkan dalam kejuaraan tinju, muaythai dan MMA. Selain tiga hal itu, siapa sangka Linda juga menyukai dunia menari dan memasak. Dua hal itu terasa kontras dengannya yang berjiwa seorang petarung.

"Ya memang kontras. Seorang petarung tidak harus berurusan dengan otot. Antara otak kanan dan otak kiri harus berimbang. Menari itu penting untuk menjaga kelenturan tubuh yang juga dibutuhkan saat bertarung. Memasak untuk keluarga juga penting karena pada dasarnya saya itu ibi rumah tangga," ujar wanita yang mengaku jatuh hati pada makanan tradisional gethuk ini.