Indonesia Sempat Nyaris Batal Jadi Tuan Rumah Asian Games 2018

Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) didampingi Mensesneg Pratikno (dari kiri), Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menpora Imam Nahrawi, Kepala Bekraf Triawan Munaf, dan Ketua Umum Panitia Pelaksana Asian Games 2018 (INASGOC) Erick Thohir meninjau kesiapan kompleks Gelora Bung Karno sebagai lokasi penyelenggaraan Asian Games 2018, di Jakarta, Senin (25/6 - 2018). (Bisnis/Amanda Kusumawardhani)
22 Juli 2018 01:00 WIB Rivki Maulana Sport Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Kurang dari sebulan, pesta olahraga Asian Games 2018 akan digelar di Jakarta dan Palembang. Pembangunan sarana dan fasilitas pendukung ditargetkan selesai sebelum 31 Juli 2018. Di balik persiapan yang terus dikebut, Indonesia hampir batal menjadi tuan rumah.

Hal itu diungkapkan Menteri Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono. Di acara bincang-bincang di Jakarta, Sabtu (21/7/2018), Basuki menceritakan Olympic Council of Asia (OCA) menilai persiapan Indonesia sejak ditunjuk menjadi tuan rumah Asian Games 2018 lambat. OCA tengah mempertimbangkan untuk memindahkan penyelenggaraan Asian Games ke negara lain.

Tokopedia

Namun, dalam pertemuan dengan para petinggi OCA, Basuki meyakinkan pihaknya bakal merampungkan pembangunan dan renovasi sarana sesuai jadwal karena Kementerian PUPR adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap aspek infrastruktur. "Waktu itu pak Agum Gumelar bilang,'you save the nation' karena kalau saya tidak meyakinkan OCA, ya [tempat penyelenggaraan] dipindah," ujarnya.

Basuki menekankan, kesempatan menjadi tuan rumah Asian Games terbilang langka. Indonesia terakhir kali menjadi tuan rumah Asian Games pada 1962 atau 56 tahun lalu. Dalam catatan Bisnis.com, Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah Asian Games pada September 2014 menggantikan Vietnam yang mengundurkan diri.

Rencana awal, Asian Games akan digelar  2019. Namun, pada tahun itu, Indonesia akan menggelar pemilihan umum dan pemilihan presiden sehingga perhelatan digelar satu tahun lebih awal. Basuki menyebut, pembangunan dan renovasi sarana untuk Asian Games sudah selesai dan dia menjamin setelah 31 Juli 2018 pekerjaan fisik dihentikan.

Secara keseluruhan, ada 76 venue alias fasilitas olahraga dan 14 nonvenue yang disiapkan. Sarana ini akan digunakan untuk kompetisi dan latihan. Adapun fasilitas nonvenue yang dibangun adalah wisma atlet dan light rail transit (LRT) di Jakarta dan Palembang. Total angggaran untuk membangun infrastrutkur Asian Games mencapai Rp30 triliun.

Menurut Basuki, sarana olahraga yang dibangun sudah sesuai dengan standard internasional. Arena balap sepeda (velodrome) dan pacuan kuda (equastrian) sudah memenuhi standar Olimpiade sehingga bisa digunakan untuk kejuaraan internasional setelah Asian Games. "Untuk GBK [Gelora Bung Karno],  lighting  yang terbaik di dunia sampai 2020. Nanti yang mengalahkan stadion di Tokyo pas Olimpiade 2020," pungkasnya.