Dituduh Menyunat Honor Atlet, Pengurus NPC Berang

Atlet difabel, Catur Suryanto, 33, menunjukkan medali emas dan perunggu di rumahnya di Wonokarto RT 004/RW 003, Wonogiri, Rabu (18/7 - 2018). (Solopos/Rudi Hartono)
07 Agustus 2018 23:09 WIB Chrisna Chaniscara Sport Share :

 

Solopos.com, SOLO — Pengurus pusat National Paralympic Committee (NPC) Indonesia bereaksi keras terhadap enam atlet difabel Jawa Barat (Jabar) yang menuding mereka memotong bonus atlet secara sepihak. 

Para atlet tersebut dinilai tidak memahami mekanisme organisasi sehingga membuat tudingan keliru. Sekjen NPC, Pribadi, mengatakan pihaknya tidak pernah sepeserpun memotong bonus atlet karena uang langsung ditransfer ke rekening atlet bersangkutan. Namun dia mengakui ada kewajiban kontribusi dana dari para atlet berprestasi untuk menghidupi NPC. Besaran kontribusi tersebut, sudah disepakati dalam rapat kerja nasional tahun lalu.

“Jadi bukan ujug-ujug kami menentukan tapi sudah melibatkan pengurus NPC se-Indonesia. Kontribusi ini pun muaranya untuk menghidupi organisasi karena selama ini NPC sama sekali belum pernah mendapat dana APBD,” terang Pribadi dalam jumpa pers di Kantor NPC Pusat di Jebres, Solo, Selasa (7/8/2018).

NPC juga membantah telah melakukan diskriminasi dalam pemilihan atlet Asian Para Games 2018 seperti yang diadukan keenam atlet kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Presiden NPC Indonesia, Senny Marbun, menjelaskan permasalahan bermula saat enam atlet difabel Jabar menggelar protes dengan berjalan kaki dari Stadion Gelora Bandung Lautan Api untuk bertemu pemerintah di Jakarta.

Para atlet itu kemudian ditemui Sekretaris Kemenpora, Gatot S. Dewa Broto, di Purwakarta, untuk membahas tuntutan atlet, Senin (6/8/2018) malam.

Tiga di antara mereka adalah atlet atletik yakni Farid Surudin, Ganjar Jatnika dan Asri. Sedangkan sisanya adalah atlet judo yakni Elda Fahmi, Junaedi dan Sony Satrio.

Dalam pertemuan dengan Sesmenpora, keenam atlet mengadukan adanya diskriminasi dalam pemilihan atlet di sejumlah event termasuk Asian Games 2018. Selain itu, mereka menuding NPC memotong bonus mereka sebesar 25% dan uang saku 10%. 

Pribadi membantah keras adanya diskriminasi dalam pemilihan atlet di Asian Games 2018. Berembus isu bahwa atlet yang menolak membayar kontribusi akan dimatikan kariernya dengan dihalangi mengikuti event bergengsi.

Pribadi menegaskan pemilihan atlet dalam sebuah event murni berdasarkan prestasi dan catatan pelatih. “Hla kalau semua atlet peraih emas Peparnas merasa berhak tampil di Asian Games, bisa ada 1.000 atlet lebih. Padahal kuota atlet hanya sekitar 300 orang,” kata dia.

Senny Marbun menyayangkan Sesmenpora yang terlalu reaktif menyikapi protes enam atlet Jabar. Senny menilai Sesmenpora mestinya mengklarifikasi dahulu tuduhan tersebut sebelum mengambil kesimpulan yang menyudutkan NPC.

Dalam pertemuan dengan atlet, kontribusi yang ditarik selama ini dianggap tidak sah. “Salah kami itu di mana? Kami hanya berupaya menghidupi organisasi sesuai amanat rakernas. Apa mereka tahu zaman susahnya NPC, saat saya harus gadaikan surat motor, surat mobil untuk menghidupi NPC. Sekarang atlet yang sudah dibesarkan NPC malah berbicara seperti itu.

Dalam waktu dekat Senny mengaku akan mengirim surat klarifikasi ke Kemenpora. “Biar jelas semuanya”.