Inspiratif! Anak Sopir Truk Karanganyar Tampil di Asian Games 2018

12 Agustus 2018 18:25 WIB Moh Khodiq Duhri Sport Share :

Solopos.com, KARANGANYAR - Sebuah kisah inspiratif dan membanggakan datang dari Dusun Randu Gunting, Desa Sumberjo, Kecamatan Kerjo, Karanganyar. Anak seorang sopir truk yang tinggal di perkampungan di lereng Gunung Lawu ini bakal tampil di Asian Games 2018 untuk mewakili Indonesia.

Nama atlet ini adalah Santi Apriyani Savitri. Perempuan berjilbab ini sebetulnya hanya bertinggi 154 cm dan berat 46 kg. Meski berpostur relatif mungil, Santi yang lebih akrab disapa Echa ini bukanlah perempuan sembarangan. Echa memang berparas lembut seperti perempuan pada umumnya, namun ia adalah penggila seni beladiri yang bakal terlihat garang saat berhadapan dengan lawannya.

“Sekarang anak saya lebih sering bertanding ke luar negeri. Saya sendiri jarang menemani karena lebih banyak bepergian ke luar kota,” ujar Sutrisno, 46, saat berbincang dengan Solopos.com melalui telepon, Sabtu (11/8/2018).

Echa merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Sejak masih anak-anak, Echa kecil sudah tergabung dalam perguruan silat Pagar Nusa. Dari silat, ia kemudian memperdalam ilmu bela diri taekwondo, ju-jitsu, hingga kick boxing. Echa pun sempat beberapa kali tampil di ajang One Pride Mixed Martial Arts (MMA) mewakili HAN Academy Solo.

Namun, perempuan yang baru mengakhiri masa lajang pada 23 Juni 2018 lalu itu lebih banyak mendulang prestasi dari cabang ju-jitsu. Di rumahnya, ada banyak medali yang berhasil ia raih dari berbagai ajang kejuaraan bela diri. Tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga tingkat internasional.

“Kalau ditanya juara apa saja saya lupa karena saking banyaknya. Ia pernah menjuarai Ju-jitsu Open yang diikuti atlet seluruh Indonesia. Ia pernah meraih [predikat] atlet ju-jitsu terbaik di Jateng selama tiga tahun berturut-turut,” jelas Sutrisno.

Sehari-hari, Sutrisno bekerja sebagai sopir truk. Kendaraan berat itu bukan miliknya, tetapi milik bosnya, seorang pengusaha kayu bekas. Sebagai seorang sopir, Sutrisno mengakui dirinya lebih banyak menghabiskan waktu di jalan ketimbang di rumah. Selama ini dia sudah menjelajah Pulau Jawa, bahkan menyeberangi lautan menuju daratan Mataram (NTB), Medan (Sumatra Utara) hingga Banjarmasin (Kalimantan Selatan) dengan membawa muatan kayu bekas.

“Saya sudah pasti menginap di jalan. Demi keamanan, biasanya saya menginap di rumah makan langganan. Semua saya lakukan demi pendidikan anak dan kebutuhan keluarga,” ujar Sutrisno.

Dengan bekerja sebagai sopir itu, Sutrisno mampu membiayai kuliah Echa di Jurusan Kesehatan Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo hingga ia bergelar sarjana. Selama berkuliah di Univet, Echa sudah banyak mengikuti kejuaraan ju-jitsu baik mewakili kampus maupun Kabupaten Sukoharjo. Meski berasal dari Karanganyar, Pemkab Sukoharjo punya peran besar bagi pengembangan karier Echa di cabang olahraga ju-jitsu.

“Selama ini yang membiayai perjuangan anak saya mengikuti berbagai kejuaraan hingga menjadi atlet profesional adalah Pemkab Sukoharjo. Jadi, setiap kali bertanding, ia selalu mewakil Sukoharjo,” papar Sutrisno.

Selain aktif sebagai atlet, Echa ternyata juga seorang manajer hotel Grand Amanda di Solo Baru Sukoharjo. Sudah hampir dua tahun terakhir, Echa menjalani peran sebagai manajer hotel. Selain itu, Echa juga aktif sebagai pelatih ju-jitsu di kampus Univet Bantara Sukoharjo. Sebelum bergabung dengan pelatnas, Echa biasa berlatih bersama rekan-rekannya di HAN Academy di kompleks Stadion Manahan Solo.

“Di HAN Academy, Echa tidak terlalu aktif di MMA. Dia fokus di ju-jitsu karena di cabor ini ia banyak meraih juara. Tapi dia juga kuat di teknik submission grappling [modal dasar untuk atlet MMA],” jelas Ketua Han Academy Yohan Mulya Legowo.