Perpisahan Menyesakkan Owi/Butet di Asian Games 2018

Pasangan ganda campuran Indonesia Liliyana Natsir/Tontowi Ahmad saat menghadapi wakil Korea Selatan Seo Seung Jae/Chae Yo Jung, di penyisihan Asian Games 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (24/8/2018). (Antara - INASGOC - Nafielah Mahmudah)
27 Agustus 2018 08:30 WIB Chrisna Chaniscara Sport Share :

Solopos.com, SOLO – Asian Games 2018 adalah turnamen yang amat berharga bagi Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Bukan hanya karena mereka digadang-gadang meraih medali emas, ajang empat tahunan itu juga menjadi momen perpisahan bagi ganda campuran andalan Indonesia itu. Ya, setelah Asian Games 2018 berakhir, tak akan ada lagi duet Tontowi/Liliyana di Asian Games selanjutnya.

Butet, sapaan akrab Liliyana, memang sudah jauh-jauh hari mengatakan Asian Games di Jakarta dan Palembang bakal menjadi Asian Games terakhirnya. Butet bakal menyentuh usia 36 tahun saat Asian Games 2022 di Tiongkok, umur yang sudah tak ideal untuk bersaing di level teratas. Owi/Butet jelas amat termotivasi saat melawan Zheng Siwei/Huang Yaqiong di semifinal ganda campuran di Istora Senayan, Minggu (26/8/2018).

Selain mengejar perpisahan manis dengan menembus babak final di hadapan publik sendiri, Owi/Butet punya ambisi membayar kegagalan mereka di Asian Games 2014 di Korea Selatan. Saat itu mereka dipaksa menyerah dua game langsung oleh Zhang Nan/Zao Yunlei (Tiongkok) dalam perebutan medali emas.
Namun harapan ternyata tak sesuai dengan kenyataan.

Owi/Butet tampil jauh dari performa maksimalnya dan takluk dua game langsung atas unggulan satu asal Tiongkok itu. Owi/Butet dihabisi dengan skor 13-21, 18-21 hanya dalam waktu 38 menit. Owi/Butet pun hanya meraih medali perunggu di Asian Games pamungkas mereka. “Kalau dibilang puas sih kurang puas, tapi kami sudah berusaha maksimal,” ujar Liliyana seperti dilansir badmintonindonesia.org, Minggu.

Owi/Butet memang cenderung kewalahan saat meladeni serangan bergelombang Zheng/Huang. Smes-smes keras lawan berulangkali membuat Owi/Butet mati kutu. Butet mengakui kekuatan dan kecepatannya kalah jauh dengan pasangan Tiongkok saat itu. Dia meminta maaf gagal memenuhi target medali emas yang dibebankan pada ganda campuran. “Rasa kecewa pasti ada, apalagi ini menjadi Asian Games terakhir saya. Tidak mungkin empat tahun lagi saya masih ikut. Namun setidaknya kami mendapat medali,” tutur perempuan asal Manado ini.

Di tengah kelesuan ganda campuran, sektor tunggal putra dan ganda putra tampil menggila untuk menempatkan empat wakilnya di babak semifinal. Kedua sektor itu bahkan bisa mewujudkan all Indonesian final apabila seluruh pemain Merah Putih mampu mengatasi lawan-lawannya. Di empat besar, Anthony Sinisuka Ginting bakal menghadapi Chou Tien Chen (Taiwan), sedangkan Jonatan Christie ditantang Kenta Nishimoto (Jepang). Adapun Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon sudah ditunggu Lee Jhe Huei/Lee Yang (Taiwan) sedangkan Fajar Alfian/M. Rian Ardianto bakal menghadapi lawan berat Li Junhui/Liu Yuchen (Tiongkok) di semifinal. Sebagai informasi, pemerintah menargetkan dua medali emas dari cabang bulu tangkis.