Tahukah Anda? Ini Alasan Pose Gigit Medali

Karateka Indonesia Rifki Ardiansyah Arrosyiid menggigit medali emas setelah mengalahkan karateka Iran, Amir Mahdi Zadeh, di final karate putra 60 kg Asian Games 2018 di JCC-Plenary Hall Senayan, Jakarta, Sabtu (25/8/2018). (Antara - INASGOC - Syaiful Arif)
27 Agustus 2018 18:40 WIB Chelin Indra Sushmita Sport Share :

Solopos.com, SOLO – Euforia pesta olahraga se-Asia, Asian Games 2018, begitu terasa. Ajang bergengsi ini diikuti atlet dari 45 negara di Asia. Sampai Senin (27/8/2018), Indonesia berada di peringkat ke-IV klasemen sementara perolehan medali Asian Games 2018.

Sebagai tuan rumah, prestasi Indonesia di Asian Games 2018 cukup luar biasa. Indonesia telah mengumpulkan 56 medali dengan perincian, 17 emas, 14 perak, dan 25 perunggu. Dalam sejumlah foto yang beredar di media sosial, para atlet tampak berfoto dengan pose menggigit medali yang diperoleh.

Bukan cuma iseng, ternyata ada makna di balik pose gigit medali tersebut. Tahukah Anda apa maksud dari para atlet yang menggigit medali tersebut? Simak ulasan yang dihimpun Solopos.com dari Washington Post, berikut:

Memotret atlet dengan pose menggigit medali menjadi obsesi para fotografer. Pose tersebut dilakukan oleh atlet atas dorongan fotografer. "Pose itu menjadi obsesi di kalangan fotografer. Mereka melihat pose tersebut sangat ikonik dan menjual," kata President of the International Society of Olympic Historians, David Wallechinsky.

Pose atlet menggigit medali tersebut populer sejak 2016 lalu. Dua atlet asal Amerika Serikat menceritakan pengalamannya saat dipotret sambil menggigit medali. "Kami tidak tahu mengapa mereka melakukannya. Namun, itu merupakan kebiasaan lama," kata Anthony Bijkerk, sekretaris jenderal International Society of Olympic Historians, seperti dikutip dari The Insider.

Pada Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil, mantan atlet renang Natalie Coughlin, dan pelari Dawn Harper Nelson, mengatakan dikerumuni segerombolan fotografer setelah mendapat medali. Para fotografer itu meminta mereka menggigit medali yang baru mereka dapatkan.

Dikutip dari Tribune, praktik menggigit medali diduga untuk memastikan keaslian emas. Emas murni yang dibuat menjadi medali relatif lunak dan akan meninggalkan bekas gigitan. David W Lange dari Numismatic Guaranty Corporation mengatakan, medali yang ada saat ini bukanlah emas murni, melainkan terdiri dari enam gram emas, sisanya perak dan tembaga. Jadi, menggigit medali tidak lagi berfungsi untuk mengecek keaslian emas.

Meski demikian, menggigit medali sudah menjadi tradisi yang terus menerus dilakukan. Bahkan, bisa dibilang menggigit medali menjadi ritual wajib yang dilakukan para atlet di seluruh dunia.

Tokopedia