Wow! Bocah 4 Tahun ini Ikut Kejuaraan Panahan di Benteng Vastenburg Solo

Radja Kasta Baruna (Solopos/Chrisna Chanis Cara)
01 November 2018 20:25 WIB Chrisna Chaniscara Sport Share :

Solopos.com, SOLO - “Masuk Pak Eko...!” Kalimat itu meluncur dari seorang bocah balita yang baru saja turun dari podium SIPAS Solo Open Archery 2 di Benteng Vastenburg, Kamis (1/11/2018). Dengan mimik bangga, bocah bernama Radja Kasta Baruna ini menunjukkan medali yang dikalungkan di lehernya.

Medali yang diraih bocah kelahiran Solo, 11 Januari 2014, ini memang sebatas medali hiburan. Sebuah penghargaan atas keikutsertaan atlet yang bertanding di Solo Open Archery 2. Pagi itu, Radja yang tampil di Kategori Standar Nasional Kelompok Umur (KU)-9 hanya berada di peringkat ke-52 klasemen akhir dengan total poin 35.

Namun bagi Radja dan keluarganya, medali ini amat spesial karena menandai kiprah perdana sang bocah di kejuaraan panahan. Dalam Solo Open Archery 2, Radja yang usianya belum genap lima tahun juga didaulat sebagai atlet termuda. “Suka [ikut lomba panahan] tapi berat [busur] sama panas [cuaca lokasi]. Tadi perutku juga mules,” ujar Radja sambil cengengesan.

Atlet Semut Ireng Pop Archery Sriwedari (SIPAS) ini lahir dari keluarga pemanah. Sang kakek, Laurensius Eddy Roostopo, adalah pemanah legendaris Kota Bengawan dengan prestasi terbaik dua medali emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) XI tahun 1981 di Jakarta. Popop, sapaan akrab Eddy, juga sempat menggemparkan publik Tanah Air setelah memecahkan rekor nasional 50 meter di PON XI.

Kakek buyut Radja, Kasmidi A. Priyo Raharjo, juga merupakan atlet panahan di PON perdana di Solo tahun 1948. Trah keluarga pemanah bertambah panjang karena ayah Radja sendiri, Havid Ponx Jakaria Kustoto, adalah mantan atlet dan kini melatih tim SIPAS. “Bagi keluarga kami, panahan sudah menjadi sebuah tradisi,” ujar Popop saat berbincang dengan Solopos.com di Benteng Vastenburg, Kamis.

Meski panahan sudah mendarah daging dalam keluarga, Popop mengaku tak pernah memaksakan cucunya itu untuk berlatih olahraga tersebut. Dia menyebut Radja yang masih balita bisa cepat capai dan bosan jika terlalu sering diajak berlatih.

Maklum saja, Radja harus membawa busur seberat 12 lbs (sekitar enam kilogram) setiap berlatih di kompleks Sriwedari. Beban itu hampir setengah dari berat sang bocah. “Saya sendiri yang membuatkan busurnya. Saya sesuaikan dengan postur cucu saya,” tutur Popop yang kini menjadi perajin busur dan anak panah.

Ayah Radja, Havid Ponx Jakaria Kustoto, mengaku memiliki kiat tersendiri untuk melatih anak bungsunya tersebut. Dia biasa meminta Radja membidik di atas bidang sasaran agar anak panah bisa mencapai bantalan. Terbukti upaya Radja bisa mengenai bidang sasaran meski poinnya masih jauh dari peserta lain.

"Kalau tidak begitu, anak panahnya tidak sampai karena tarikan busurnya masih terlalu pendek,” kata Havid.

Dia menyebut penempaan mental bertanding lebih penting bagi Radja di kejuaraan perdananya. “Inginnya memang Radja bisa menjadi atlet profesional, meneruskan tradisi keluarga di panahan,” ucap sang ayah.