Sport
Rabu, 28 Oktober 2015 - 04:25 WIB

KEJUARAAN DUNIA ATLETIK DIFABEL : Tujuh Atlet Indonesia Berburu Poin di Doha

Redaksi Solopos.com  /  Mulyanto Utomo  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

Kejuaraan dunia atletik difabel diikuti tujuh atlet Indonesia di Doha.
 
Solopos.com, SOLO — Sebanyak tujuh atlet National Paralympic Committee (NPC) Indonesia berburu poin untuk menembus Paralympic Games 2016 dengan mengikuti Kejuaraan Atletik Dunia di Doha, Qatar, 24 Oktober-1 November.

Indonesia diwakili Setyo Budi Hartanto di kelas lompat jauh dan lompat jangkit T46, Martin Losu di kelas lari 100 meter dan 200 meter T47, Halim di kelas lari 100 meter dan 200 T11, Wagiyo di kelas lari 400 meter T44, serta Rasidi di kelas lompat jauh, lari 100 meter dan 200 meter T44.

Advertisement

Sementara itu, di kategori atletik lapangan NPC menurunkan Alan Sastra Ginting  untuk kelas lempar lembing dan lempar cakram F58 serta Priyano kelas lempar cakram dan lempar lembing F47.

Pelatih atletik NPC Indonesia, Slamet Widodo, mengatakan tidak membebani target raihan medali kepada ketujuh atlet yang berkompetisi di Doha. Mereka hanya dituntut mencatatkan limit waktu terbaik untuk memperbaiki posisi di papan peringkat dunia demi mengejar tiket kualifikasi ke Paralympic Games.

Advertisement

Pelatih atletik NPC Indonesia, Slamet Widodo, mengatakan tidak membebani target raihan medali kepada ketujuh atlet yang berkompetisi di Doha. Mereka hanya dituntut mencatatkan limit waktu terbaik untuk memperbaiki posisi di papan peringkat dunia demi mengejar tiket kualifikasi ke Paralympic Games.

“Persaingan di kejuaraan dunia sangatlah ketat, jadi kami tidak berani memasang target medali. Targetnya hanya untuk berburu poin,” tutur dia saat dijumpai Espos di sela-sela memimpin latihan di Stadion Sriwedari, Solo, Selasa (27/10/2015).

Dari beberapa kelas yang telah dipertandingkan, Indonesia mendapatkan kabar baik melalui keberhasilan Halim melejit ke peringkat kesembilan dunia. Halim mencatatkan waktu 11,6 detik di kelas lari 100 meter.

Advertisement

Selain itu, Martin Losu juga sudah bertanding di kelas lari 200 meter. Namun, dia gagal menyajikan performa maksimal karena hanya mencatatkan waktu 23,68 detik. “Catatan waktu Martin justru menurun dari di [ASEAN Para Games] Myanmar dulu, tapi kami belum tahu peringkat dia sekarang,” imbuh Slamet.

Setelah berlaga di Doha, ketujuh atlet tersebut harus kembali fokus berlatih bersama kontingen atletik NPC untuk mempersiapkan penampilan di ASEAN Para Games, Singapura, Desember nanti. Setelah itu, mereka dijadwalkan kembali berburu poin untuk lolos ke Paralympic Games di Rio de Janeiro, Brasil, tahun depan.

“Minimal kami harus ikut tiga kejuaraan dunia lagi tahun depan untuk memastikan tampil di Rio de Janeiro. Mungkin akan ada perubahan atlet yang dikirim ke kejuaraan dunia tahun depan, tapi ya tetap sesuai potensi lolos Paralympic,” tutur dia.

Advertisement

NPC hanya pernah meloloskan dua atlet dari cabang olahraga (cabor) atletik di Paralympic Games. Mereka adalah Martin dan Setyo yang meramaikan Paralympic Games 2012 di London, Inggris. (Tri Indriawati/JIBI/Solopos)

Para atlet defabel sedang berlatih di stadion Manahan Solo beberapa waktu silam. JIBI/ilustrasi

Advertisement

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif