Kontingen Solo Gondol 17 Medali Emas di Kejuaraan Internasional Wushu

Ilustrasi atlet wushu Indonesia bertanding di kelas taolu. (Antara/Wahyu Putro A.)
23 Desember 2018 22:25 WIB Ivan Andimuhtarom Sport Share :

Solopos.com, SOLO - Kontingen Wushu Kota Solo semakin mantap menatap berbagai event kejuaraan di masa mendatang setelah berhasil mengumpulkan 17 medali emas,23 medali perak, dan 24 medali perunggu dalam kejuaraan wushu bertajuk 1st Bali International Kungfu Championship 2018 di Nusa Dua, Bali, 17-22 Desember 2018. 

Perolehan medali tersebut melampaui target yang ditetapkan Pengurus Kota (Pengkot) Wushu Solo yaitu dua medali emas, lima perak, dan 10 perunggu. Hasil itu diperoleh oleh 27 atlet wushu dari berbagai usia.

Kejuaraan tersebut juga membuat para atlet dan Pengkot Wushu Solo optimistis bersaing mendapatkan slot tempat dalam Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) Jawa Tengah untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) yang rencananya digelar di Papua pada 2020. Empat di antara atlet yang mendapat tiket prapelatda mengikuti kejuaraan di Bali. Mereka adalah Alexandra Calista, Sherly Velika Wuryaningtyas, Fayla Maharani Ningtyas, dan Yulia Widya Novita.

Pada 1st Bali International Kungfu Championship 2018, Alexandra berhasil mengemas dua emas; Sherly meraih dua perak; Fayla mengemas tigas emas dan dua perak; Yulia meraih dua emas dan dua perak.

Ketua Harian Pengkot Wushu Solo, Bambang Sugeng, mengatakan hasil itu menjadi bukti keberhasilan pembinaan yang dilakukan oleh sasana wushu dan Pengkot Wushu Solo. Ia menilai para atlet semakin memiliki kepercayaan diri untuk bersaing dalam segala event kejuaraan.

"Anak-anak yang dibina ini memang memiliki potensi. Waktu Pekan Olahraga Provinsi [Porprov) 2018 sudah terbukti. Di Bali mereka juga berprestasi. Saya yakin mereka akan jadi andalan Solo dan bahkan menjadi kekuatan Jateng untuk PON di Papua," ujarnya kepada Solopos.com, Sabtu (22/12/2018) malam.

Ia berharap lima atlet yang telah memperoleh tiket prapelatda bisa masuk dalam pelatda. Namun, ia meminta para atlet tak jemawa. Pasalnya Pengprov Wushu Jateng menerapkan sistem promosi-degradasi pada atlet yang masuk prapelatda.

"Kalau atlet stagnan, Pengprov akan mempertimbangkan dipertahankan atau dikembalikan ke daerah. Pengprov juga lihat potensi atlet melalui beberapa event kejuaraan 2019 seperti Kejurnas di Unnes Semarang dan Piala Raja," terangnya.

Ia berharap anak-anak makin percaya diri dengan hasil kejuaraan di Bali. Ia berjanji Pengkot akan melakukan pembinaan serius, termasuk memfasilitasi para atlet mengikuti kejuaraan sehingga jam terbang mereka makin tinggi.

Sekretaris Pengkot Wushu Solo, Hanato, menilai para junior yang ikut kejuaraan di Bali juga menunjukkan kualitas mereka. Hal itu mempermudah Pengkot melakukan pemetaan untuk meregenerasi atlet. "Hasil ini bisa jadi salah satu tolok ukur siapa jadi pelapis siapa," ujarnya.