Resmi! Qatar Jadi Tuan Rumah Moto GP hingga 2031

Balapan Moto GP (Reuters/Lisi Niesner)
08 Maret 2019 19:25 WIB Chrisna Chaniscara Sport Share :

Solopos.com, LOSAIL — Gebrakan demi gebrakan dilakukan Qatar dalam penyelenggaraan Moto GP. Setelah mengambilalih Jerez sebagai lokasi seri pembuka sejak 2007 dan menggelar balapan malam hari setahun setelahnya, kini negara di Jazirah Arab itu memastikan menghelat Moto GP hingga 2031. Qatar pun menjadi tuan rumah Moto GP dengan kontrak terlama sejauh ini.

Qatar sejatinya masih berhak menggelar Moto GP hingga 2025 setelah otoritas setempat memperpanjang kontrak selama 10 tahun yang diteken 2015 lalu. Namun belakangan pemilik Moto GP, Dorna Sports, mengumumkan bahwa kesepakatan baru telah ditandatangani.

Sirkuit Losail Qatar dipastikan menggelar ajang balap kuda besi hingga 12 tahun mendatang. “Qatar akan terus menyambut kejuaraan balap motor tercepat di dunia untuk tahun-tahun mendatang,” demikian pernyataan resmi Dorna, seperti dilansir Motorsport, Jumat (8/3/2019).

Meski terus menunjukkan ambisinya di ajang balap motor, GP Qatar masih panen kritik ihwal waktu penyelenggaraan race yang terlalu malam. Sejumlah pembalap Moto GP meminta balapan perdana yang sedianya digelar Minggu (10/3/2019) pukul 20.00 waktu setempat dimajukan untuk mengurangi risiko kecelakaan.

Pihak penyelenggara sempat menjajaki perubahan jadwal setelah Jorge Lorenzo melobi CEO Dorna, Carmelo Ezpeleta. Namun jadwal race dipastikan tidak berubah. Juara bertahan Moto GP sekaligus rekan setim Lorenzo, Marc Marquez, menyayangkan keputusan tersebut.

“Tahun lalu kami balapan pukul 19.00 [waktu setempat] dan itu balapan yang sangat bagus. Suhu dan kelembaban baik-baiksaja. Saya lebih suka balapan di jam itu, kurang berisiko dan pertunjukan akan lebih baik,”ujar Marquez.

Pembalap Yamaha, Maverick Vinales, sepakat pengembalian jadwal GP Qatar seperti musim lalu bakal lebih aman. “Grip di lintasan akan jauh lebih baik dan kami bisa menekan lebih banyak. Jika memang [jadwal] tak berubah, tentunya kami harus mendiskusikan dengan Komisi Keselamatan,” ujar Vinales.