Kisah Giannis Antetokounmpo, Imigran Lalu Jadi Pemain Terbaik NBA 2019

Giannis Antetokounmpo (Reuters/Gary A. Vasquez)
26 Juni 2019 00:40 WIB Chrisna Chaniscara Sport Share :

Solopos.com, LOS ANGELES - Giannis Antetokounmpo dinobatkan sebagai Most Valuable Player (MVP) NBA musim 2018/2019 dalam acara penganugerahan di Los Angeles, Amerika Serikat, Senin (24/6/2019) waktu setempat. Forward Milwaukee Bucks itu meraih gelar pemain terbaik di usia 24 dan 125 hari sekaligus jadi pemain termuda ketiga yang meraih MVP dalam 40 tahun terakhir.

Dalam voting finalis MVP, Antetokounmpo meraih 78 suara dari kemungkinan 101 suara. Dia mengalahkan James Harden (Houston Rockets) yang mengantongi 23 suara serta finalis MVP tiga kali, Paul George (Oklahoma City Thunder), yang tak meraih satu suara pun.

Ini merupakan pencapaian fenomenal bagi Bucks karena mereka akhirnya memiliki seorang MVP setelah era Kareem Abdul Jabbar yang merebut gelar itu pada 1971, 1972 dan 1974. Sambil menitikkan air mata, pebasket berjuluk The Greek Freak itu memberikan pernyataan menyentuh seusai penganugerahan gelar di Los Angeles, Selasa (25/6/2019).

“Saya ingin berterimakasih pada ayah. Setiap hari dalam setiap langkahku, saya selalu memikirkannya dan itu memotivasiku untuk berlatih lebih keras dan terus berkembang,” ujar pemain kelahiran Athena, Yunani, ini dilansir NBA.com, Senin.

Kehidupan masa kecil Antekounmpo memang cukup keras. Lahir dari keluarga imigran asal Nigeria, orang tuanya harus bekerja keras untuk mencari penghasilan serta mendapat pengakuan dari pemerintah Yunani. Hingga umur 18 tahun, Antetokounmpo bahkan tak memiliki kewarganegaraan karena belum ada dokumen resmi dari otoritas Nigeria maupun Yunani.

Beruntung pada 2007 Antetokounmpo mulai berkenalan dengan bola basket yang kemudian bakal mengubah hidupnya. Klub profesional pertamanya adalah tim muda Filathlitikos, klub lokal Yunani pada 2009. Tiga tahun berselang dia dipromosikan ke tim senior hingga kemudian bakatnya tercium Milwaukee Bucks pada 2013.

“Dua tahun lalu, saya sudah memiliki target untuk menjadi pemain terbaik di liga. Saya akan melakukannya untuk membantu tim meraih kemenangan,” ucap pemain dengan tinggi 2,11 meter tersebut.

Musim ini The Greek Freak tampil luar biasa dengan membawa Bucks mencatat rekor terbaik sepanjang masa di musim reguler dengan 60 kemenangan dari 82 laga. Antetokounmpo menorehkan 27,7 poin, 12,5 rebounds, 5,9 assist serta konversi field goals mencapai 57,8% yang membuat Bucks menduduki peringkat pertama Wilayah Timur.

Dia kemudian membawa timnya ke final wilayah dan sempat unggul 2-0 pada dua game pertama atas Toronto Raptors. Namun Antetokounmpo harus gigit jari karena Raptors berhasil membalikkan keadaan untuk menang 4-2. Raptors akhirnya menjadi juara setelah mengalahkan Golden State Warriors.